Laman

Jumat, 05 Juli 2013

Informasi Obat Ranitidin

Informasi obat ranitidin

Nama Obat
Ranitidin Hidroklorida
Golongan
K
Merek Dagang
Acran, Anitid, Conranin, Curadyn, Fordin, Gastridin, Graseric, Hexer, Hufadine, Indoran, Rancus 150, Ranilex, Ranin, Ranivell, Ranticid, Rantin, Ratinal, Scanarin, Tricker, Tyran, Ulceranin, Ultiran, Wiacid, Xeradin, Yekaradin, Zantac, Zantadin, Zantifar, Zenti, Zumaran.
Nama Kimia
Ranitidin:NN-Dimethyl-5-[2-(1-methylamino-2-nitrovinylamino)ethylthiomethyl]furfurylamine ; Ranitidin hidroklorida
Struktur Kimia
(C13H22N4O3S), C13H22N4O3S,HCl. 1
Sifat Fisika Kimia
Ranitidin hidroklorida (USP 29) : Serbuk kristalin berwarna putih sampai kuning pucat, praktis tidak berbau. Sangat mudah larut dalam air, agak sukar larut dalam alkohol. Larutan 1% dalam air mempunyai pH 4,5-6,0.
Penyimpanan (serbuk) : Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya
Kelas Terapi
Obat untuk saluran cerna
Subkelas Terapi
Antasida dan antiulkus
Kelas Farmakologi
Antagonis Histamin 2 (AH2)
Mekanisme Aksi
Secara reversibel dan kompetitif menghambat reseptor Histamin 2 (H2) terutama pada sel parietal lambung, sehingga memicu penghambatan sekresi asam lambung.
Indikasi
FDA-Labeled:
Ulser duodenal, Ulser duodenal (pertahanan), esofagitis erosive, hipersekresi gastrik, ulser gastrik, ulser gastrik (pertahanan), refluk gastroesofagitis, infeksi Helicobacter pylori pada GI, Indigestion (non-ulser), Zollinger-Ellison syndrome.
Non-FDA Labeled:
Pneumonitis aspirasi (Prophylaxis), Asma, Duodenitis, Gastritis medicamentosa, hiperkloridia (nocturnal), Ulser stress (profilaksis).
Kontraindikasi
Hipersensitif terhadap ranitidin atau bahan tambahan pada sediaan.
Kategori Kehamilan
·      B (FDA)
·      B1 (AUS)
Efek Samping
Terbatas dan tidak berbahaya: aritmia, vaskulitis, pusing, halusinasi, sakit kepala, confusion, mengantuk, vertigo, eritema multiforme, kemerahan, pankreatitis, anemia haemolitic acquired, agranulositosis, anemia aplastik, granulositopenia, leukopenia, trombositopenia, pansitopenia, gagal hati, anafilaksis, reaksi hipersensitivitas
Dosis dan Rute Pemberian, serta  Indikasi
DOSIS DEWASA:
·      Ulser duodenal: 150 mg p.o dua kali sehari, atau 300 mg sekali sehari setelah makan malam atau waktu tidur.
·      Ulser duodenal: 50 mg IV/IM setiap 6-8 jam atau 6.25 mg/jam infus i.v.
·      Ulser duodenal (pertahanan): 150 mg p.o sekali sehari waktu akan tidur.
·      Esophagitis erosif: awal, 150 mg p.o 4 kali sehari.
·      Esophagitis erosif (pertahanan): 150 mg p.o dua kali sehari.
·     Hipersekresi gastrik: 150 mg p.o dua kali sehari; sampai 6 gram perhari telah digunakan untuk pasien dengan penyakit parah.
·      Hipersekresi gastric: (Injeksi atau infuse intermitten) 50 mg i.v atau i.m setiap 6-8 jam.
·      Hipersekresi gastric: (infuse i.v berlanjut) 6,25 mg/jam.
·      Ulser gastrik: 150 mg p.o dua kali sehari.
·    Ulser gastric (pertahanan): 150 mg p.o sekali sehari saat akan tidur.
·      Refluks gastroesofagitis: 150 mg p.o dua kali sehari.
·    Infeksi Helicobacter pylori pada GI: (Empat terapi) ranitidin 150 mg p.o dua kali sehari dikombinasi dengan metronidazole 250 mg p.o empat kali sehari, bismut subsalisilat 525 mg p.o empat kali sehari dan tetrasiklin hidroklorida 500 mg p.o empat kali sehari selama 10-14 hari.
·   Indigestion, Non-ulcer: (Profilaksis) 75-150 mg p.o 30-60 menit sebelum makan, maksimal 300 mg/hari.
·   Indigestion, Non-ulcer: (Pengobatan) 75-150 mg p.o satu atau dua kali sehari, maksimal 300 mg/hari.
·      Ulser stress (profilaksis): 150 mg p.o dua kali sehari.
·      Ulser stress (profilaksis): 50 mg i.v setiap 6-8 jam.
·      Ulser stress (profilaksis): 6,25 mg/jam infuse i.v berkelanjutan.
·       Zollinger-Ellison syndrome: 150 mg p.o dua kali sehari.
·     Zollinger-Ellison syndrome: (injeksi atau infuse intermitten) 50 mg i.v/i.m setiap 6-8 jam.
·      Zollinger-Ellison syndrome: (infus i.v berkelanjutan) 1 mg/kg/jam, jika setelah 4 jam output asam lambung lebih dari 10 mEq/jam atau ada simptomatik pasien, dosis dapat ditingkatkan dengan peningkatan 0,5 mg/kg/jam, maksimal 2,5 mg/kg/jam.

DOSIS PEDIATRIK
·    Ulser duodenal: (1 bulan-16 tahun) 2-4 mg/kg p.o dua kali sehari, maksimal 300 mg/hari.
·   Ulser duodeal: (1 bulan-16 tahun) 2-4 mg/kg/dhari i.v dalam dosis terbagi setiap 6-8 jam, maksimal 50 mg setiap 6-8 jam.
·  Ulser duodenal (pertahanan): (1 bulan-16 tahun) 2-4 mg/kg p.o sekali sehari, maksimal 150 mg/hari.
·   Esophagitis erosive: (1 bulan-16 tahun) awal 5-10 mg/kg/hari p.o dalam dua dosis terbagi.
·  Ulser gastrik: (1 bulan-16 tahun) 2-4 mg/kg p.o dua kali sehari, maksimal 300 mg/hari.
·   Ulser gastrik (pertahanan): (1 bulan-16 tahun) 2-4 mg/kg p.o sekali sehari, maksimal 150 mg/hari.
·  Refluk gastroesofagitis: (1 bulan-16 tahun) 5-10 mg/kg/hari p.o dalam dua dosis terbagi.
·   Indigestion, Non-ulcer (profilaksis): 12 tahun atau lebih, 75-150 mg p.o, 30-60 menit sebelum makan, maksimal 300 mg/hari.
·      Indigestion, Non-ulcer (pengobatan): 12 tahun atau lebih 75-150 mg p.o sekali sehari, atau dua kali sehari, maksimal 300 mg/hari.
·   Ulser stress (profilaksis): (infant) 3-6 mg/kg/hari i.v dalam dosis terbagi setiap 8 jam.
·  Ulser stress (Profilaksis): (anak-anak) 3-6 mg/kg/hari i.v dalam dosis terbagi setiap 6 jam, maksimal 200 mg/hari.
·     Ulser stress (profilaksis): (neonatus) 0,0625-0,2 mg/kg/jam dalam infuse berkelanjutan.
·  Ulser stress (profilaksis): (neonates, full-term) 1,5-3 mg/kg/hari dalam dosis terbagi setiap 8 jam.
·      Ulser stress (profilaksis): (neonates, pre-term) 0,5 mg/kg/hari i.v dalam dosis terbagi setiap 12 jam.
Penyesuaian Dosis
·      Gangguan ginjal: CrCl < 50 mL/menit, 150 mg p.o setiap 24 jam.
·      Gangguan ginjal: CrCl < 50 mL/menit, 50 mg i.v setiap 18-24 jam.
Interaksi
MAYOR
·      Atazanavir (theoretical)
·      Dasatinib (theoretical)
·      Delavirdine (theoretical)
·      Domperidone (theoretical)
·      Ponatinib (theoretical)
·      Rilpivirine (theoretical)
·      Tolazoline (probable)
·      Vismodegib (theoretical)

MODERAT
·      Cefpodoxime Proxetil (probable)
·      Dicumarol (probable)
·      Didanosine (established)
·      Enoxacin (probable)
·      Erlotinib (probable)
·      Fosamprenavir (probable)
·      Gefitinib (probable)
·      Glipizide (probable)
·      Itraconazole (probable)
·      Risperidone (probable)
·      Triazolam (probable)
·      Warfarin (probable)
Gejala dan Tanda Kelebihan Dosis
Pernafasan cepat, gagal pernafasan, takikardia, tremor, muntah, gelisah, pucat pada membrane mukosa, kemerahan pada mulut dan telinga, hipotensi, salvias, diare, miosis, lakrimasi.
Informasi Obat untuk Pasien
·      Dapat diberikan tanpa mempertimbangkan makanan.
·      Jangan minum antasida lain bersamaan dengan obat ini, beri jarak paling tidak 1 jam.
·      Hindarkan penggunaan alkohol dan rokok.
Informasi Obat untuk Dokter
·  Telusuri sejarah pasien termasuk sejarah penggunaan obat dan adanya alergi obat.
·      Telusuri CBC, fungsi hati dan ginjal dan monitor secara berkala.
· Nilai status mental sebelum memulai obat dan monitor perubahannya.
·    Kurangi kecepatan peberian i.v jika terjadi bradikardia, takikardia, atau terjadi kontraksi ventrikel premature, jika kondisi berlanjut stop infus, dan pertimbangkan alternative lain.
·  Nasihatkan pada pasien untuk memberitahukan jika terjadi nyeri perut, mual, muntah, perubahan konsistensi atau warna feses, jaundik, sakit kepala, rasa lelah berlebihan, ruam kulit dan nafas jadi pendek.
Informasi Obat Untuk Apoteker
·      Simpan sediaan sirup dalam lemari pendingin
Informasi Obat untuk Perawat
·  Untuk pemberian i.v: stabil dalam injeksi dekstrosa 5% atau 10%, NaCl 0,9% atau larutan Ringer laktat.
· Ketika diberikan melalui i.v, encerkan sampai volume 20 ml menggunakan larutan saline untuk injeksi dan suntikkan selesai paling tidak dalam lima menit.
·  Pemberian infuse intermitten, encerkan 50 mg dalam 50-100 ml D5W dan diinfuskan selesai dalam 15-20 menit.
·      Berikan infus berkelanjutan dengan kecepatan 6,25 mg/jam, kecuali pada pasien Zollinger-Ellison syndrome.
·      Simpan sediaan yang telah dilarutkan pada suhu kamar, dan buang setelah 48 jam jika belum habis.
·      Jangan dicampur dengan obat lain pada pemberian i.v.
Referensi Acuan
·      A-Z drug Facts
·      Drugbank
·      ISO Indonesia Volume 47
·      Micromedex
·      PIO 2009 (Depkes RI)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar